KERAJAAN MEMPAWAH
Disusun Oleh:
kristorio novian : 131610048
ridho willianto : 131610030
kristorio novian : 131610048
ridho willianto : 131610030
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN DAN PENGETAHUAN SOSIAL
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUPLIK INDONESIA
PONTIANAK
2017
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUPLIK INDONESIA
PONTIANAK
2017
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas rahmat serta karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah Sejarah Lokal ini dengan baik Makalah ini berisi tentang Sejarah Lokal yang berjudul Kerajaan Mempawah yang akan membahas tentang: Kerajaan Bangkule Rajakng, Sejarah Kerajaan Mempawah, Peninggalan Sejarah Kerajaan Mempawah, dan Tempat dan Peristiwa Sejarah.
Demikianlah yang dapat kami sampaikan. Kami mohon maaf jika dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak yang telah membaca makalah ini.
Akhirnya, semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis maupun pembaca untuk dapat menambah wawasan kita tentang mata kuliah Sejarah Lokal.
Pontianak, April 2017
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................... ii
BAB I : PENDAHULUAN .............................................................. 4
A. Latar Belakang .................................................................................. 4
B. Rumusan Masalah ............................................................................. 5
C. Tujuan Penulisan ............................................................................... 5
D. Manfaat Penulisan ............................................................................. 5
BAB II : PEMBAHASAN .............................................................. 5
A. Kerajaan Bangkule Rajakng .............................................................. 5
B. Sejarah Kerajaan Mempawah ........................................................... 14
C. Peninggalan Sejarah Kerajaan Mempawah ...................................... 18
D. Tempat dan Peristiwa Sejarah ............................................................. 23
BAB III : PENUTUP ........................................................................ 25
A.Simpulan .............................................................................................. 25
B. Saran .................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
kerajaan Mempawah bermula dari sebuah kerajaan Dayak yang berkedudukan di dekat pegunungan Sidiniang, Sangking, Mempawah Hulu yang berdiri kira-kira tahun 1340 Masehi. Kerajaan yang dipimpin oleh Patih Gumantar itu disebut-sebut sebagai pecahan kerajaan Matan/Tanjungpura. Kerajaan ini sangat populer pada zamannya. Patih Gumantar juga telah mengajak Patih Gajahmada dari kerajaan Majapahit mengadakan kunjungan dalam menyatukan Nusantara. Kunjungan ini kemungkinan besar dilaksanakan sesudah lawatan Gajahmada ke kerajaan Muang Thai dalam membendung serangan kerajaan Mongol. Saat itu Gajahmada memberikan hadiah Keris Susuhan yang masih tersimpan sampai saat ini di Hulu Mempawah. Kerajaan ini harus berakhir ketika kira-kira tahun 1400 Patih Gumantar tewas terkayau oleh serangan suku Biaju/Miaju.
Sekitar tahun 1610 kerajaan ini bangkit dan dilangsungkan di bawah kekuasaan Raja Kudung/Kodong. Pusat pemerintahan kerajaan Dayak ini berada di Pekana, Karangan. Istrinya bernama Puteri Berkelim.
Setelah Raja Kodong wafat pada tahun 1680, pemerintahan digantikan oleh Raja Senggauk/Sengkuwuk. Ibukota kerajaan dipindhkan dari Pekana ke Senggauk, hulu sungai Mempawah. Raja Dayak ini beristrikan putri Kerajaan Batu Rizal Indragiri Sumatera yang bernama Putri Cermin. Putri Raja Kodong yang bernama Utin Indrawati kemudian dinikahi Panembahan Muhammad Zainudin, putra Kerajaan Tanjungpura.
Putri Kesumba, cucu Raja Senggauk dari Panembahan Muhammad Zainudin kemudian menikah dengan Opu Daeng Menambon, bergelar Pangeran Mas Surya Negara dari kerajaan Luwuk yang berdiam di Kerajaan Tanjungpura. Opu Daeng Menambon kemudian diangkat sebagai raja. Ia memindahkan pusat kerajaan ke daerah Sebukit Rama.
Tahun 1766 setelah wafatnya Opu Daeng Menambon, putra mahkota bergelar Panembahan Adiwijaya Kesuma Jaya naik takhta. Adiwijaya terkenal anti penjajahan dan pada masanya perlawanan terhadap Belanda pernah terjadi di daerah Galaherang, Sebukit Rama dan Sangking.
Tahun 1840 takhta diserahkan kepada putra mahkota Gusti Jati. Kota pusat kerajaan dibangun di pulau Pedalaman, tempat bekas pendudukan Belanda. Ibukota pusat pemerintahan dinamakan Mempawah, satu nama yang diambil dari nama pohon yang banyak tumbuh di hulu sungai Mempawah, yakni pohon Mempauh.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang akan di uraikan ialah:
1. Bagaimana mengetahui latar belakang Kerajaan Mempawah yaitu bermula dari Kerajaan Bangkule Rajakng menjadi Kerajaan Mempawah?
2. Bagaimana sejarah Kerajaan Mempawah?
3. Apa-apa saja peninggalan sejarah Kerajaan Mempawah?
4. Dimana tempat dan peristiwa sejarah di Kerajaan Mempawah?
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin di capai penulis ialah:
1. Untuk mengetahui latar belakang Kerajaan Mempawah yaitu bermula dari Kerajaan Bangkule Rajakng menjadi Kerajaan Mempawah dan memberikan informasi tentang peristiwa masa lampau sebagai bahan pendidikan. Terutama untuk meningkatkan dan menyempurnakan kesadaran akan sejarah bagi generasi muda khususnya, dan masyarakat Kalimantan Barat pada umumnya.
2. Untuk mengetahui sejarah Kerajaan Mempawah dan membina kesadaran akan pentingnya arti masa lampau tersebut guna menumbuhkan atau membangkitkan semangat patriotisme dan nasionalisme, semangat persatuan dan kesatuan, juga kebanggaan nasional sebagai wujud dari rasa cinta kepada nusa dan bangsa.
3. Untuk mengetahui apa-apa saja peninggalan sejarah Kerajaan Mempawah dan untuk menanamkan nilai- nilai yang patut dipedomani dan diteladani dari para tokoh pahlawan kita yang telah gugur dan membuang sifat- sifat yang buruk dari masa lampau.
4. Untuk mengetahui dimana saja tempat sejarah yang ada di Kerajaan Mempawah dan untuk mengetahui adat istiadat atau tradisi yang ada di Kerajaan Mempawah
BAB II
PEMBAHASAN
B. Sejarah Kerajaan Mempawah
Pada waktu Opu Daeng Menambon meninggal dunia, maka tahta kerajaan diserahkan kepada anaknya Gusti Jemiril yang bergelar Penembahan Adiwijaya Kesumajaya. Pusat kerajaannya berpindah dari Sebukit ke Mempawah atau tepatnya di Pulau Pedalaman. Maka mulai saat itu tahun 1761 M dan sampai saat kurun waktu berikutnya nama Kerajaan Bangkule Rajakng telah berganti dengan Kerajaan Mempawah.
Penembahan Adiwijaya Kesumajaya beristrikan Daeng Kelola putera dari Daeng Biasa yang menetap di Betawi, merupakan saudara dari kakeknya yaitu Opu Tandre Borong Daeng Rilekke. Perkawinan ini memperoleh tiga orang anak yaitu:
1. Gusti Muhammad Zainal Abidin, nama kecilnya Gusti Jati yang kemudian bergelar Sultan Muhammad Zainal Abidin.
2. Gusti Mas, bergelar Pangeran Panglima.
3. Utin Ratnadi.
Pada masa pemerintahan Penembahan Adiwijaya ini mempawah lebih terkenal dan merupakan sebuah Bandar dagang yang ramai baik dari dalam maupun dari luar daerah. Dan mempunyai luas wilayah yang makin lebar, pada waktu masa pemerintahan Opu Daeng Menambon hanya 5 binua (daerah) bertambah menjadi 14 daerah. Setiap daerah ini wajib menyerahkan cukai kepada Datuk Pembekal yang mengutus wakil-wakil untuk menanganinya. Sebagai bukti bahwa Kerajaan Mempawah merupakan Bandar dagang yang ramai adalah dipakainya nama-nama seperti Lubuk Batang, Lubuk Sauh dan lain sebagainya. Kapal-kapal itu dikatakan dari daerah-daerah yang jauh seperti Makassar, Siantan (Sumatera), Banjar, orang-orang Tambi dan Brunai.
Mereka menetap disitu untuk berguru kepada Al Habib Husin. Hal ini dibuktikan dengan adanya nama-nama kampung yang ada di sekitar kerajaan yang disesuaikan dengan suku yang mendiami. Seperti Kampung Bugis, Kampung Banjar, Kampung Tambi, Kampung Bayan, Kampung Siantan dan lain-lain. Melihat nama-nama dari pada ketua daerah yang menjadi daerah kekuasaan Penembahan Adiwijaya masih banyak yang menggunakan nama-nama Dayak, kemungkinan pengaruh Islam belum kuat masuk ke daerah-daerah tersebut. Mungkin penyebaran Islam baru mencapai lapisan masyarakat daerah sekitar kerajaan yang letaknya tidak begitu jauh dengan pusat kerajaan dan para pendatang yang sengaja datang untuk belajar agama.
Namun begitu kerukunan masih terjalin dengan baik meskipun Rajanya mempunyai kepercayaan yang berlainan, hal itu kemungkinan disebabkan karena mereka masih menghormati sumpah nenek moyang mereka dengan Opu Daeng Menambon. Kerukunan ini terlihat pada saat Penembahan Adiwijaya hijrah ke Sunga (Karangan) karena terdesak oleh Belanda yang pada saat itu telah menguasai Mempawah. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1201 H atau 1787 M ditandai sebagai tahun hijrah Penembahan Adiwijaya ke Sungan, setelah 26 tahun berkuasa di Kerajaan Mempawah. Peristiwa itu bermula dari kedatangan Belanda ke Mempawah dibawah pimpinan seorang Mayor Besar Belanda bernama “Ambral” dan seorang Kaptennya bernama “Salpit-sir”.
Ketika kapal-kapal Belanda masih berada di Kuala Mempawah, Mayor Ambral diperkenankan oleh Penambahan Adiwijaya untuk mengadakan pembicaraan dengan syarat harus datang sendiri ke istana ke istana kerajaan di Pulau Pedalaman. Namun pada kenyataannya Ambral tidak datang seorang diri tetapi dengan kapal beserta pasukannya. Maka terjadilah tembak-menembak diantara keduannya sehingga menimbulkan korban di kedua belah pihak.
Untuk mencegah terjadinya pertumpahan darah yang semakin banyak akhirnya Penembahan Adiwijaya mengundurkan diri hijrah ke Sungan mengatur siasat perang bersama-sama dengan Panglima Tan Kapi.Kedatangannya di Sungan disambut dengan gembira oleh rakyatnya, maka berdatanglah ke 14 kepala-kepala daerah dengan menghantarkan makan, hasil bumi dan hasil buruannya. Banyak hal yang di Sungan semasa Penembahan Adiwijaya hijrah ke sini, antara lain bergantinya nama dari Sungan menjadi Karangan sebab tempat ini dipakai untuk ngarang (menyusun) adat yang telah disetuhui bersama oleh ke 14 daerah, ketua-ketua pemegang adat, kepala kampong maupun Bide-Bide. Selanjutnya hukum adat ini disalin ditempat lain yang sekarang lebih dikenal dengan Menjalin.
Selain hal tersebut diatas saat itu juga terjadi penyumpahan untuk kedua kalinya, yang pertama oleh Opu Daeng Menambon di Pinang Sekayu ± tahun 1738 dan kedua oleh Penembahan Adiwijaya di Lubuk Gundul ± tahun 1787 yang isinya “Mengaku Setia Kepada Raja Turunan Patih Gumantar Turun-temurun”. Penembahan Adiwijaya Kesumajaya meninggal dunia pada tahun 1204 H, yang menjadi permasalahan sekarang adalah adanya dua buah kuburan yang diakui menjadi makam beliau yaitu di Karangan dan di Pulau Pedalaman. Tetapi sebagian besar keturunan Beliau tetap mengaku bahwa makam di Karangan itulah yang benar. Pada saat meninggalnya Beliau meninggalkan 9 orang anak, yaitu dari isteri pertama Daeng Kelola memperoleh seorang putera bernama Gusti Jati bergelar Pangeran Anom. Kemudian menjadi Raja bergelar Penembahan Surya Negara. Oleh G.G. Van Der Capelen diberi gelar Sultan Muhammad Zainal Abidin. Sedangkan dari isteri kedua yaitu adil Daeng Kelola bernama Daeng Laila mempunyai anak Gusti Amir, menjadi raja menggantikan Sultan Muhammad Zainal Abidin menjadi Raja Mempawah dengan gelar “Penembahan Adinata Krama Umar Kamaruddin”.
Pada saat Penembahan Adiwijaya meninggalkan Mempawah menuju ke Karangan, oleh Belanda diangkatlah Syarit Kasim anak Sultan Syarif Abdurrachman atau anak kemanakan Penembahan Adiwijaya, menjadi raja mempawah. Syarif Kasim bergelar Penembahan Syarif Kasim memerintah Kerajaan Mempawah hanya sebentar karena ia harus menggantikan kedudukan ayahnya di Kerajaan Pontianak. Maka Kerajaan Mempawah digantikan oleh adiknya Syarif Husin bin Sultan Syarif Abdurrachman Alqadri.
Gusti Amir yang bergelar Penembahan Adinanta Krama Umar Kamaruddin merupakan Penembahan ketiga keturunan Daeng Menambon yang memerintah tahun 1243 H - 1269 H atau 1828 M – 1853 M. Setelah Gusti Amir meninggal digantikan oleh puteranya bernama Gusti Mu’min bergelar Penembahan Mu’min Nata Jaya Kesuma, memerintah hanya sehari sebab keburu meninggal dunia. Kedudukan raja digantikan oleh adiknya bernama Gusti Mahmud yang bergelar Penembahan Muda Mahmud Alauddin memerintah tahun 1855 M – 1860 M. Dengan meninggalnya Gusti Mahmud, Kerajaan Mempawah dipegang oleh Penembahan Usman yaitu anak dari Penembahan Mu’min Nata Jaya Kesuma yang bergelar Penembahan Usman Mu’min Nata Jaya Kesuma. Setelah Penembahan Usman mangkat maka anak Penembahan Mahmud yang bernama Gusti Ibrahim bergelarPenembahan Ibrahim Muhammad Syafiuddin menggantikan menjadi Raja.
Tidak ada seorangpun keturunan raja atau orang tua-tua yang dapat menjelaskan bagaimana bentuk dari Keraton Penembahan Adiwijaya pada waktu itu, sedangkan nama keraton yang didirikan oleh Penembahan Ibrahim Mohammad Syafiuddin yang bertuliskan huruf Arab “Amantu Billah” yang artinya “ Percaya Kepada Tuhan”. Namun keraton Amantu Billah yang didirikan oleh Penembahan Ibrahim lain dengan keraton Amantu Billah yang ada sekarang didirikan pada tahun 1922 pada masa Penembahan Mohammad Taufik Akhmaddin, anak dari Gusti Ibrahim.
Akan tetapi tidak menutup kemungkinan keraton yang ada sekarang ini adalah hasil renovasi dari keraton Penambahan Ibrahim, atau mungkin juga mendirikan keraton baru diatas keraton yang lama dan tetap menggunakan nama Amantu Billah. Pada waktu Gusti Ibrahim wafat, putera mahkota yaitu Gusti Mohammad Tauifik masih kecil belum cukup umur untuk dinobatkan menjadi raja. Maka sebagai wakil diangkatlah Gusti Intan sebagai raja bergelar Pangeran Anom Kesuma Yuda. Memerintah dari tahun 1310 H – 1320 H atau 1892 M – 1902 M. Pada tanggal 16 Agustus 1902 diangkatlah Gusti Taufik menjadi Penembahan, bergelar Penembahan Mohammad Taufik Akamaddin. Beliau beristerikan Ratu Mutiara anak Raja Sambas, dikaruniai dua orang anak yaitu Utin Ketumbar dan Pangeran Ukar. Keduanya meninggal pada usia yang masih muda.
Kemudian Gusti Mohammad menikah lagi dengan Encek Kamariyah bergelar Ratu Mas Sri Utama, anak dari Mohammad Thaha. Setelah selama 41 tahun memerintah Kerajaan Mempawah, datanglah bangsa Jepang ke Mempawah. Pada waktu pendudukan Jepang inilah terjadi pembataian para raja, dan kaum intelektual serta tokoh-tokoh masyarakat, yang semua mayatnya dimakamkan di makam Jaung Mandor. Salah satunya tokoh Raja yang diculik dan dibantai yaitu Penembahan Mohammad Taufiq dan sampai sekarang belum diketahui secara jelas makamnya. Beliau meninggal dalam usia 63 tahun dan meninggalkan tiga orang anak laki-laki yaitu:
1. Pangeran Muhammad (Drs Jimmy Muhammad Ibrahim)
2. Pangeran Faisal
3. Pangeran Taufikijah
C. Peninggalan Sejarah Kerajaan Mempawah
1. Bekas Keraton Mempawah
Keraton mempawah yang ada sekarang ini bernama keraton Amantu Billah yang artinya ‘Percaya Kepada Tuhan’. Keraton ini didirikan pada tanggal 2 November 1992 oleh penembahan Muhammad Tufik Akamaddin, yang terletak di kelurahan kampung pulai pedalaman. Keraton yang tak berapa luas ini masih dihuni oleh kaum kerabat keraton, yang terbagi atas beberapa ruangan. Bangunan keraton itu sendiri dibagaian depan terdapat teras atau balai. Sedangakan dibagian dalam terdapat ruang singgasana yang berisi dengan barang- barang peninggalan keraton antara lain kursi singgasana yaitu tempat duduk raja atau penembahan bersama dengan isterinya. Disamping itu terdapat terdapat tombak pengawal sebanyak enam buah, tombak upacara dua buah, beserta dengan payung kebesaran raja yang sudah tidak dapat dipakai lagi.
Selain itu terdapat banyak foto keluarga antara lain foto penembahan Akkamaddin, panambahan ibrahim, foto para isteri dan keluarga, juga foto Presiden Belanda pada saat mengunjungi Keraton Mempawah. Juga piagam- piagam penghargaan yang diberikan Presiden Belanda kepada panambahan Mohammad Taufik Akkamaddin. Selain itu dalam singgasana juga tersimpan macam- macam keris, keramik. Ruang lain berisi meriam dan tembok. Meriam ini adalah meriam yang dibawa oleh Opu Daeng Menambon ke Kalimantan Barat bernama Si Gondah, sedangkan meriam pasangan barunya bernama Raden Mas. Sebenarnya Si Gondah ada sepasang, namun pada saat menurunkan meriam tersebut, meriam yang satunya tidak diturukan ikut terbawa Daeng Mataku ke Siak, sampai sekarang disimpan dikeraton Siak.
Selain Daeng Menambon masih banyak lagi meriam- meriam yang letak di halaman depan dan diteras semua berjumlah 10 buah. Selain ruang- ruang yang telah disebutkan diatas terdapat ruang senenan atau gamelan. Senenan ini berfungsi sebagai pelengkap dalam suatu upacara yaitu sebagai alat peniging.
Keadaan senenan masih tampak bagus dan terawat baik. Ruang- ruang lain seperti ruang tidur panembahan dan keluargannya, sampai sekarang masih dihuni oleh para kerabatnya.
2. Makam Raja- Raja Mempawah
a. Makam Opu Daeng Menambon Di Sebukit
Makam Opu Daeng Menambon terletak di Sebukit Rama, Desa Pasiran kecamatan Mempawah Hilir. Selain makam Daeng Menambon, juga terdapat makam Gusti panembahan Haji Syech Mohammad Saleh yang letaknya berdampingan. Isteri Opu Daeng Menambon Ratu Kesumba baru meninggal pada tahun 1185 H atau ±tahun 1771 M. Masyarakat setempat menganggap makan Opu Daeng Menambon keramat sehingga kebanyakan orang yang datang mengunjungi makam tersebut mempunyai tujuan- tujuan tertentu, bahkan ada yang sampai yang bersemedi di tempat tersebut agar cita- citanya akan tercapai.
b. Makam Raja- raja Dipulau Pedalaman
Di tempat ini akan ditemui makam-makam yaitu:
1) Makam Ratu Kesumba yang bergelar Ratu Agung Sinuhun, wafat pada bulan sapar tahun 1185 H atau ± tahun 1771 M.
2) Makam Gusti Jati atau Panembahan Surya Nata Kesuma Memerintah pada tahun 1816 M – 1826 M atau 1228 H- 1241 H. Beliau wafat dimakamkan dikomplek pemakamkan raja- raja mempawah.
3) Makam Gusti Amir bergelar Penembahan Adinata Krama Umar kkamaruddin. Memerintah pada tahun 1243 H- 1264 H atau 1828 M- 1853 M.
4) Makam Gusti Mu’min, yang bergelar Penambahan Mukmin Nata Jaya Kesuma atau lebih dikenal dengan Pangeran Daeng. Yang memerintah Kerajaan Mempawah pada tahun 1853 M- 1855 M.
5) Makam Gusti mahmud dengan gelar Pangeran Suta Negara atau Panembahan Muda Mahmud Akamaddin memerintah tahun 1855 m dan wafat pada tahun 1860 M.
6) Makam Gusti Usman bergelar Penambahan Usman Nata jaya Kesuma. Beliau wafat pada tahun 1864 M.
7) Makam Gusti ibrahim yang mempunyai gelar Pangeran Kesuma Agung atau Penembahan Ibrahim Mohammad Syaifuddin. Beliau wafat pada tahun 1892 M, dimakamkan dalam ruang tersendiri yang kelihatan terawat bersih dan rapi.
8) Makam Gusti intan memerintah dari tahun 1310 H – 1320 H atau 1892 M.
9) Makam Gusti Mohammad Taufik dengan gelar Panembahan Mohammad Taufik Akamaddin. Beliau memerintah pada tanggal 16 Agustus tahun 1902. Pada waktu Jepang di Mempawah, Panembahan Mohammad Taufik merupakan salah satu dari beberapa tokoh dan raja- raja yang diculik oleh Jepang, yang sampai sekarang tidak diketahui secara pasti dimana makamnya. Peristiwa itu terkenal dengan nama Peristiwa Mandor.
10) Makam Encik Kamarilah yang bergelar Ratu Adinegara juga dikuburkan dikomplek makam raja- raja Mempawah di kampung pedalaman.
c. Makam Panembahan Adiwijaya Di Karangan
Masuknya Belanda ke kerajaan mempawah menyebabkan pemerintahan Adiwijaya harus pergi dan mengungsi di Karangan. Banyak hal yang diperbuat Panembahan Adiwijaya, salah satunya adalah mengubah nama Sungai menjadi Karangan.
Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir beliau pernah berpesan bahwa ia tidak rela jenazahnya dibawa ke mempawah. Beliau wafat pada bulan zulqaedah tahun 1294 H atau 1767 M. Beliau dimakamkan bersama- sama dengan kerabatnya yang masih ada keturunan darah dengan beliau.
d. Makam Tiga Bersaudara
Makam tiga bersaudara yaitu Tan Unus, Tan Baiduri, Tan Kapi terletak di Karangan, kecamatan Mempawah Hulu Kabupaten Pontianak. Menurut sumber yang diperoleh dikatakan bahwa ketiga berasal dari Madras yang sekarang disebut orang Brunei Darusalam. Ketiga bersaudara ini dimakamkan berdekaan satu sama lain. Keadaan makamnya sendiri belum banyak mengalami perubahan dari dulu sampai sekarang hanya dibatasi oleh batu nisan terbuat dari batu dicet berwarna kuning. Makam tersebut berada di tengah- tengah hutan yang dikelilingi oleh pohon- pohon yang besar.
e. Makam Al Habib Husin
Makam ini terletak di desa Sejegi Kecamatan Mempawah Hilir dan sekitar 1 km jaraknya dari pusat KotaMempawah. Habib Husin mula- mula bernama As sayid Husin Al Qadri yang karena kepandaian dan tinggi ilmunya dalam bidang agama maka oleh masyarakat dimuliakan dengan panggilan Al Habib. Hari rabu 3 Dzulhijah tahun 1184 H atau 1770 M habib husin wafat dalam usia ± 64 tahun. Keadaan makam Habib Husin terlihat terawat bersih, dan disitu juga terlihat makam- makam kerabatnya yang masih ada hubungan darah dengan Beliau. Oleh masyarakat makam beliau dianggap keramat.
f. Masjid Jami’Mempawah
Masjid peninggalan Kerajaan Mempawah yang ada sekarang bernama Masjid Jami’atul Khair yang terletak di tepi sungai dipulau Pedalaman. Masjid ini dibangun kira- kira pada tahun 1928 pada masa pemerintahanPanembahan Mohammad Taufik Akamaddin. Di dalamnya terdapat mimbar yang telah dibentuk dengan gaya modern, yang terbuat dari besi baja dan beratap kain berwana kuning. Lantai masjid itu terbuat dari kayu belian, beduk dari kulit dan kayu beliaan dan dua buah jam dinding kuno sebagai pelengkap dalam ruangan masjid.
D. Tempat Dan Peristiwa Sejarah
a. Penyumpahan Di Pinang Sekayu Dan Lubuk Gundul
Menurut cerita narasumber penyumpahan disini adalah suatu perjanjian yang dibuat oleh masyarakat Dayak dengan pihak kerajaan yang isinya menyatakan bahwa “Mengaku setia kepada Raja turunan Patih Gumantar turun-temurun”. Penyumpahan pertama terjadi di Pinang Sekayu pada masa Opu Daeng Manambon Pangeran Mas Surya Negara. Hal itu terjadi karena adanya perselisihan yang terjadi dikalangan keluarga kerajaan, dalam hal ini antara Daeng Manambon dan Pangeran Adipati. Sedangkan penyumpahan kedua di Lubuk Gundul terjadi pada masa pemerintahan Gusti Jemiril yang bergelar Panembahan Adiwijaya.
b. Upacara Robo’-Robo’
Seperti disebutkan bahwa upacara Robo’-Robo’ diadakan setiap hari Rabu terakhir bulan Safar, setahun sekali. Kata Robo’ diartikan sebagai Rabu. Maka Robo’-Robo’ sangat dekat kaitannya dengan Rabu-Rabu. Istilah lain juga disebut Safaran karena diadakan hanya pada malam Safar. Menurut kepercayaan masyarakat setempat bahwa pada malam Safar merupakan malam yang naas dan penuh kesialan.
Dimana Tuhan Yang Maha Esa menurunkan bala kepada manusia pada setiap tahunnya pada bulan Safar dan menurut kepercayaan roh halus yang dapat menolong menyelamatkan manusia. Bagi masyarakat daerah Kabupaten Pontianak di Mempawah, upacara ini lebih bersifat historis, religius, magis, dan sosio kultural. Robo’-Robo’ termasuk upacara besar dan melalui beberapa tahapan yaitu upacara ziarah kekubur, upacara kenduri, dan yang terakhir adalah hiburan rakyat yang bersifat tradisional.
c. Benteng Syarif Kasim
Bangunan yang dahulu dibuat oleh Sultan Kasim di Pulau Pedalaman dekat Keraton Mempawah, menyerupai sebuah benteng yang sekarang tinggal reruntuhannya saja. Bangunan tersebut terbuat dari bahan batu hitam yang kuat. Dipakai sebagai tempat pertahanan prajurit-prajurit kerajaan dari musuh-musuhnya.
d. Lubuk Batang Dan Lubuk Sauh
Lubuk Batang adalah nama sebuah kampung yang terletak dikampung dalam pinggir Sungai Mempawah. Merupakan sebuah pelabuhan kecil tempat menerima cukai dari rakyat yang datang dari hulu sungai dengan menggunakan perahu. Lubuk artinya sungai yang dalam dan Batang artinya batang kayu yang disusun seperti rakit untuk dijadikan tempat bongkar muat di situ.
Selain itu ada juga sebuah kampung yang bernama Lubuk Sauh yang letaknya di kampung dalam juga. Fungsi dari Lubuk Sauh juga sama yaitu sebagai pelabuhan. Di sebut Lubuk Sauh karena setiap perahu yang datang berlabuh menurunkan sauh atau jangkar perahu disitu. Pedagang yang datang ke Kerajaan Mempawah antara lain pedagang Bugis, Siantan (Sumatra), Brunai dan lain-lain.
BAB III
PENUTUP
A. kesimpulan
Keajaan Bangkule Rajakng dipimpin oleh seorang Patih bernama Patih Gumantar yang terkenal gagah berani. Dari keturunan Patih Gumantar menikah dengan Daeng Menambon dari suku lain yaitu Bugis. Dari keturunan Daeng Menambon inilah yang menjadi raja-raja di Mempawah. Perpindahan pusat kerajaan dari Sebukit Rama ke Karangan karena didesak oleh Belanda, yaitu pada masa pemerintahan Penembahan Adiwijaya.
Penembahan yang anti Belanda ini sampai wafatnya tetap berada di Karangan. Kemudian di kalangan masyarakat timbul dua pendapat mengenai makam dari Penembahan Adiwijaya yaitu Karangan dan di Pulau Pedalaman. Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir beliau pernah berpesan supaya dimakamkan di Karangan. Biasanya permintaan dari seorang yang mau meninggal wajib dipenuhi apalagi beliau seorang raja.
Kehidupan sosial dan hubungan antar daerah kebanyakan dilakukan melalui sungai, sehingga perdagangan dan pelayaran berkembang dengan pesat. Begitu juga perdagangan dilakukan dengan negara-negara atau daerah lain di luar Kalimantan Barat. Hal ini ditunjukkan dengan adanya perkampungan yang terdapat di sekitar kerajaan, biasa dilakukan oleh para pedagang yang jauh tempat tinggalnya dan secara rutin mengadakan hubungan dagang dengan Kerajaan Mempawah. Bahkan ada yang menikah dan mempunyai keturunan dengan penduduk setempat. Bandar sungai dengan nama tertentu seperti Lubuk Sauh, Lubuk Batang, Galah Hilang, menunjukkan keadaan yang ramai pada waktu itu sebagai tempat untuk berlabuh dan menurunkan barang.
Ada juga nama-nama tempat seperti Sangking, Melinsam, Lubuk Gundul dan sebagainya sebagai tempat bersejarah yang selalu dikenang oleh rakyat mempawah. Semua itu merupakan peninggalan Sejarah Kerajaan Mempawah yang tak ternilai. Walaupun sekarang sudah banyak terjadi perubahan-perubahan di tempat-tempat tersebut, sehingga sulit untuk diketahui tempatnya.
Sepeninggalan Penembahan Adiwijaya, oleh Belanda diangkatlah Syarif Kasim dari Pontianak anak Sultan Abdul Rahman. Maksud dari pengangkatan itu belum dapat diketahui sampai sekarang, yang jelas dengan pengangkatan Syarif Kasim tersebut berarti hubungan Belanda dan Pontianak sangat erat. Apalagi di Kerajaan Mempawah terdapat benteng gaya barat peninggalan Syarif Kasim, tujuannya mungkin untuk mempertahankan diri dari serangan kerajaan-kerajaan lain.
Sepeninggalan Syarif Kasim tahta diduduki oleh Syarif Husin dan kemudian berturut-turut keturunan dari Penembahan Adiwijaya. Setelah pemerintahan Syarif Husin tahta kerajaan di pegang oleh keturunan Adiwijaya sampai kedatangan Jepang di Indonesia. Tindakan Jepang dengan menculik para raja dan juga tokoh-tokoh masyarakat termasuk juga Penembahan Mohammad Thaufiq Akamadin, menyebabkan makam Raja Mempawah ini tidak diketahui dengan pasti dimana letaknya, apakah ikut dikubur bersama-sama dengan para korban lainnya di Mandor atau dikubur di tempat lain
DAFTAR PUSTAKA
Nurcahyani, Lisyawati. (1994). Pendataan Sejarah Keraton Mempawah dan Peninggalan Sejarahnya.Pontianak : Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar